By : Aslini P Barus, Desa Nogosari

Minggu ini adalah minggu kedua kami di posko, walaupun memang kami belum sampai seminggu mendiami posko. Setelah kejadian hilangnya HP, saya selalu merasa was-was dan tidak nyaman. Berbagai ketakutan ada di pikiran saya yang membuat saya tidak nyaman untuk tinggal di posko. Apalagi ditambah adanya berita tentang hilangnya anak KKN daerah Silo yang gempar didunia maya, semakin menambah ketakutan saya menjadi lebih lagi. Tapi semenjak kejadian itu ada perubahan yang mendasar di masing-masing anak, kami satu sama lain menjadi saling mengingatkan dan memperhatikan kelalaian masing-masing teman. Hal itu sedikit banyak meningkatkan keakraban kami dalam kelompok

Dua hari setelah hilangnya HP kami itu Bapak kepala desa datang berkunjung ke balai desa, menyampaikan kalau sehari sebelumnya juga ada terjadi pencurian sapi di salah satu RT. Ternyata banyak sekali kejahatan pencurian  yang terjadi di desa ini. Muncul pertanyaan di kepala saya, apa yang salah dengan tempat ini? Menurut saya warga di desa ini sudah cukup sejahtera, perumahan layak dan kebun-kebun milik pribadi yang sangat luas ditempat ini. Tidak terdapat perkebunan  milik pemerintah ataupun swasta di desa ini, jadi dapat dipastikan kalau perkebunan dikelola sendiri oleh masyarakat. Hanya saja kenapa dengan tingkat kesejahteraan yang seperti ini masih saja banyak pencurian yang terjadi? Bukankah seharusnya semakin sejahtera suatu wilayah akan menurunkan tingkat kriminalitas, terutama aspek pencurian. Hal ini sedikit mengganjal dihati saya, apa pencurian-pencurian yang banyak terjadi di desa ini bukan saja ulah dari warga ditempat ini? Apa ada orang dari luar yang mengganggu ke desa ini?

Setelah beberapa hari setelah kejadian  itu ada kabar  yang kami dapat dari perangkat desa tentang HP saya dan HP teman saya yang hilang. Salah satu pak RW di desa ini mendatangi kami saat memberikan pelajaran tambahan buat anak-anak sekitar posko yang minta diberi les. Saat itu saya merasa sedikit kaget saat pak RW mengatakan kalau orang yang dicurigai mencuri itu adalah seorang anak SMP dan saya juga tidak begitu yakin kalau barang sejenis HP yang telah dicuri dapat kembali lagi.

Setelah dua hari dari pembicaraan  saya dengan pak RW ternyata memang benar orang yang mencuri HP tersebut adalah anak SMP yang dicurigai itu. HP teman saya dikembalikan oleh anak itu tapi HP saya belum mau dikembalikan karena anak itu mengaku menemukan HP tersebut di sumur di dekat posko (balai desa) dan yang ditemukan hanya HP teman saya beserta chargernya begitupun kabel charger HP saya. Mendengar itu saya sedikit merasa kesal, karena kekerasan hati dari anak tersebut yang tidak mau mengembalikan HP saya dan alasan yang dia berikan kalau HP itu ditemukan di sumur dekat balai desa lengkap beserta chargernya.Tapi saya juga tidak tega untuk melaporkan anak itu pada pihak berwajib, apalagi dengan statusnya yang masi sekolah. Saya juga masih sedikit kaget kalau yang mencuri itu benar-benar seorang anak yang masih dapat dikatakan dibawah umur. Lalu Bapak kepala desa mengatakan kepada saya untuk sabar menunggu hati anak itu melembek dan mau mengembalikan HP saya.

Walaupun belum ditangan saya, saya merasa sangat senang karena HP teman saya telah kembali, paling tidak kami telah menemukan titik terang. Antara percaya dan tidak melihat HP teman saya kembali, tapi setelah beberapa lama saya baru yakin benar kalau HP teman saya memang sudah dikembalikan.

Malam itu saya langsung mengabari orang tua saya kalau HP itu sudah mulai ketahuan dimana.  Orang tua saya juga bersemangat mendengar suara saya yang menggebu-gebu bercerita. Orang tua saya hanya berpesan orang itu telah memberi pelajaran berharga buat saya dan itu mengajari saya untuk lebih berhati-hati.

Keesokan harinya, kami melakukan pendataan Gerbangmas (sama dengan posdaya) yang diamanatkan dari LPM. Saat mendata ternyata Gerbangmas yang kami data lebih fokuspada pelayanan kesehatan anak seperti posyandu. Namun saya cukup kagum ada Gerbangmas ini, karena walaupun dengan keterbatasan yang sangat banyak Gerbang mas ini masih dapat berjalan apalagi menurut penuturan Buk Jum sebagai ketua Gerbangmas mawar ini, mereka sering melakukan pengecekan pada penampungan air warga untuk upaya pencegahan demam berdarah. Sembari melakukan pendataan sayapun bertanya kenapa pelayanan kesehatan hanya dilakukan pada balita saja, Bu Jum mengatakan kalau dulu posyandu ini juga diperuntukan untuk lansia, hanya saja banyak lansia yang tidak mau melakukan cek kesehatan rutin karena tidak di suntik. Ini menunjukkan paradigma yang timbul di masyarakat kita, kalau pencegahan penyakit ini sering diabaikan. Orang tidak akan melakukan pemeriksaan kesehatan kalau tidak sedang sakit. Namun hal yang lucu buat saya kenapa mesti disuntik?

Malam harinya saat kami mau makan bersama ada seorang bapak yang datang ke balai desa. Bapak itu datang membawa HP saya, mengembalikan langsung  kepada saya. Setelah mengembalikan HP saya bapak itu segera pulang tanpa sempat saya ajak bicara banyak. Ternyata setelah saya tanyakan ke bu RW yang mengembalikan HP itu adalah orang tua dari anak yang sempat khilaf.